Monday, 11 September 2006

D.T.K

Dtk_1 Gara-gara ambruk nyaris semaput, gw ga sengaja nonton sinetron mak. (Sinetron gitu loh..barang haram yang paling gw hindari kecuali buat dicaci tentunya..hihihihi…)

Malam minggu jam 21.00 WIB, nongol di layar kaca RCTI, sembari berkegiatan kerok-mengkerok, gw nonton sinetron ini. Sinetron yang digembar-gemborkan sebagai sebuah serial TV yang lain daripada yang lain atau bahkan disebut Sejarah baru prime time.(Deuh segitunya…)

Jujur sih gw ga tau kalau DUNia Tanpa KOma (DTK) adalah sebuah sinetron. Gw pikir itu film barunya Dian Sastro yang diperankan sama banyak pemeran film terkenal lainnya. Sekelebatan doangan sih liat wawancara infotainment sama Dian di TV. Wajar kan gw ga tau bgitu. Trus payahnya gw ga nggeh juga, ketika ada banyak ikon merah dengan tulisan DTK di pinggir kanan atas, di setiap tayangan program RCTI yang gw tonton.

Gw baru bener-bener nyadar yah pas malam minggu itu, pas mba Andru yang lagi asik “melukis” badan gw, langsung nyomot remote sambil nyerocos

“ Eh Dunia tanpa Koma”. Wacks !!! Baru nyadar deh gw…”Ow….sekarang tho’ tayangnya. Gw pikir film…ternyata sinetron yak ? hehehehehehe……”

Well….melihat DTK meski ga penuh satu setengah jam…mulai kumat deh jiwa nyela gw. Bener-bener gw amati tuh sinetron scene by scene-nya. And my general comment is NOT BAD.

Tapi secara gw kritis…(deuh..kritis ape doyan nyela’..hihihi…), gw masih uring-uringan sama scene ketika Bayu, sang redaktur pelaksana Majalah Target yang diperankan Tora Sudiro, seenaknya saja memindahkan anak buahnya ke desk lain karena ga dapet berita yang sama seperti yang di dapet Bramantyo, wartawan harian saingan mereka yang diperankan Fauzi Baadila.

Ngomel-ngomelan lah gw pas scene itu muncul. Ga segitunya deh yang namanya kebijakan redaksi. Ga seenak udelnya gitu. Ga demokratis sama sekali. Otoriter sekali pimred dalam rapat redaksi macam itu. Secara gw wartawan yang kerja dan terlibat dalam rapat redaksi, gw pikir scene itu patut dipertanyakan.

Gw masih yakin, tidak sedemikian vulgar keputusan memindahkan desk satu atau dua reporternya gara-gara dia ga dapet berita besar. Kalau pun ada keputusan seekstrim itu, itu diputuskan dalam rapat para big bos alias rapatnya redaktur, editor, dan pemimpin perusahaan. Memindahkan SDM ke desk lain bukan suatu keputusan instant macam itu. Perlu ada evaluasi terlebih dulu, apa keputusan itu perlu diambil atau tidak.

Tapi memang ada juga beberapa perusahaan pers yang gw tau memang punya kebijakan rolling desk setiap 3 atau 6 bulan sekali kepada reporternya. Gw sendiri juga sempet ngalamin kok. Dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan atau mudah atau instant untuk diputuskan. So wajar dong gw terganggu dong dengan scene itu…(ciee…pembelaan diri..hihihihi..)

Gimana ga terganggu coba ? Scenarionya ditulis sama mbak Leila S. Chudori. Seorang wartawan kawakan bidang sastra yang kerja buat TEMPO-institusi yang punya wibawa dan track record bagus-. 16 tahun mengabdikan diri sebagai wartawan, gw pikir mbak Leila sangat tau soal keputusan memindahkan reporter ke desk lain dong.

Juga soal scene dimana Slamet Rahardjo, sang pemimpin redaksi, marah ga keruan gara-gara harian saingannya dapet berita dan mereka tidak. Ada gitu yah ? Yang gw tau sih paling marahnya dalam bentuk halus tapi sama menyakitkannya kok. Bentuknya lebih kepada teguran yang tajam dan nyelekit. Yah..setidaknya begitu yang gw tau dan alami. Tidak dengan cara teriak-teriak macam itu. Its so Murphy Brown banget deh….

Yah akhirnya gw pikir dan mengalah pada penjelasan mbak Leila bahwa sinetron ini adalah cerita fiktif. So gw coba memaklumi bahwa tetap ada beberapa hal nyata dalam kehidupan kita yang dilebih-lebihkan untuk menciptakan suasana yang lebih mengundang perhatian penonton. Tapi lagi-lagi secara gw wartawan, gw tetep aja protes..hehehehe….

Abis kalau benar kata mbak Leila bahwa suasana di majalah Tempo,saat sebelum dibredel di awal tahun 90an, sangat mempengaruhi proses kreatifnya membuat scenario sinetron ini, gw jadi bertanya-tanya lagi tentunya. “Emang suasana Tempo awal 90-an, pake acara keputusan otoriter bin instant pemindahan reporter ke desk lain yak ?”

Oh iya. Ada satu scene lagi yang menganggu lagi buat gw. Scene dimana Dian berangkat kerja ke kantor dengan mengendarai sepeda ontel lalu berganti pakaian di toilet lalu menjadi cantik setelahnya.

Sekonyong-konyong..mulut gw berkomentar dong…Taela…luar negri banget yak scene-nya. Mana ada wartawan cewek yang pergi ke kantor naek sepeda goes goes ke kantor di Jakarta nan panas bin berdebu ini ?”

Tapi kalau bener ada mah…sok atuh kasih tau gw yak…

Yang gw tau dan kenal dari temen2 wartawan cewe gw yang latar belakang materinya berkecukupan seperti tokoh yang diperankan Dian, rata-rata pada naek mobil atau angkutan umum.

Well…its not that I don’t appreciate this drama series. Lumayan bagus kok buat pencerahan dunia persinetronan kita yang belakangan didominasi dengan tayangan soal ajaran islam yang dilanggar dan pasti dihukum berat sama Tuhan..(Ih….sebel ! Bikin Islam jadi agama yang mengerikan deh. Bikin Allah jadi jahat banget gitu. Padahal Allah kan Maha PEnyayang dan Pemaaf).

Soal judul yang disebut sebagai gambaran dunia jurnalistik berita yang tanpa jeda, yang tak memiliki "jam kerja" yang ketat 9 to 5 seperti profesi lain, gw ga ada masalah. Meski memang harus keep alert dan bersedia tetap bekerja pada jam-jam gila, dunia ini masih ada jeda nya juga kok kadang.

Tapi kalau gw boleh saran sih..tayangan DTK ini kan juga tujuannya guna mendidik masyarakat kita. Mbok ya..dibikin lebih pas dengan realita yang ada dalam dunia jurnalistik. Kan mbak Leila bilang, dia bikin sinetron ini sebagai bentuk kepeduliannya terhadap tayanganTV Indonesia….(cie…cie…cari dukungan..hehe…)

Bikin realitas soal dunia kewartawanan yang lebih nyata dong. Biar image wartawan yang sekarang masih cenderung negative di mata masyarakat, bisa disajikan lebih utuh.

Salam…

Tuesday, 04 April 2006

"V" for VendeTTa

Dahsyat !!!! 250pxv_for_vendetta_poster_natalie_portm_1

Itu kesan yang aku dapat dari awal sampai akhir film ini. Salute lah buat sang sutradara dan penulisnya ! Mereka sangat berani beropini dan tak pikir panjang dengan menyuguhkan sebuah happy ending dari sebuah masalah yang mereka angkat dari sebuah realita. Endingnya ditutup dengan sebuah situasi yang sangat sempurna dan diharapkan. Tapi buatku itu sah-sah saja. Tokh, mereka punya otoritas macam itu, bikin alur cerita yang berakhir dengan solusi yang hampir mustahil terjadi di dunia nyata.

Tapi sumpah, aku suka banget sama semua masalah yang mereka ungkap di dalam film itu. Mereka ceritain dan gambarin betapa dahsyatnya pengaruh media massa dalam membentuk opini public. Dan mereka pilih media itu adalah televisi berlabel BTN(British National Network) yang sudah disetting sedemikian rupa, supaya jadi corong dan alat propaganda pemerintah yang berkuasa, yakni kanselor Tinggi Suttler.

TV ini berhasil memformat ulang semua fakta yang terjadi di negara itu. TV ini memutarbalikkan semua fakta, demi kepentingan seorang politisi yang berusaha jadi penguasa Negara itu. Dia sengaja ciptakan kepanikan pada masyarakat demi memanfaatkan situasi yang kacau, untuk meraih simpati, suara dan dukungan dari public bahwa dia lah sang penyelemat alias hero . 180pxvendetta_mask

Melihat scene-scene yang menggambarkan how powerfull media can be ini, aku jadi inget jaman kuliah dulu. Jaman kita dikasih banyak teori tentang teori jarum suntik komunikasi media massa

. Baru kebayang, kayak apa dahsyatnya pengaruh media itu euy.

Terus aku jadi semakin amaze, ketika film juga memuat kisah tentang rapi dan teraturnya masyarakat. Rupanya penguasa sangat berhasil membungkam rakyatnya, dengan alasan keamanan dan kesetiaan pada Negara. Rakyat tidak punya kekritisan terhadap apa-apa yang sebenarnya aneh di lingkungannya. Mereka hanya tau dan disuguhkan informasi bahwa semua yang mereka ketahui dan pelajari lewat media, adalah baik-baik saja.

Gila ! Aku jadi ingat,masa-masa orde baru di Negara kita. Semua dibungkam dan diatur sedemikian rupa supaya semua seragam dan sama. Apa-apa yang berbau perbedaan dari garis besar haluan Negara, dilarang, haram dan pasti kena sanksi. Dan bagi mereka yang tetap berjuang untuk kebebasan dan keberagaman, demokrasi, dibungkam, diculik dan dihilangkan.

Well, meski film ini diadaptasi dari sebuah teks yang ditulis tahun 1980, aku tetap lihat film ini adalah kritik sosial terhadap keberadaan masyarakat kita saat ini. Film ini mendukung kritisme yang diusung oleh kelompok pejuang anti kemapanan, anti pemerintah khususnya. Mungkin sebagian kalangan akan melihat sang pahlawan dalam film ini “V” sebagai teroris karena aksi brutal yang di pakai untuk selesaikan masalah yang terjadi pada masyarakatnya.

Tapi buat aku seru dan dahsyat ! Sang pembuat film berani mendobrak semua aturan dan prinsip yang biasa diterima publik barat kok. BRAVO !!!